Sri Mulyani Sebut Ketidakpastian Pandemi Covid-19 Masih Sangat Besar

TEMPO.CO, Jakarta -Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut risiko ketidakpastian global karena pandemi Covid-19 masih sangat besar. Ketidakpastian muncul lantaran merebaknya varian-varian anyar Covid-19, seperti Omicron, yang baru-baru ini muncul di beberapa negara.

“Pada 2022 fiskal kita akan terus sangat mendukung pemulihan ekonomi. Kami sangat menyadari bahwa kita masih menghadapi ketidakpastian yang paling besar, yaitu dengan Covid-19,” ujar Sri Mulyani saat menjadi pembicara kunci dalam acara 2nd International Upstream Oil and Gas 2021 yang ditayangkan di YouTube SKK Migas, Selasa, 30 November 2021.

Sri Mulyani berujar, meski penuh tantangan ketidakpastian, Pemerintah Indonesia akan melalukan upaya terbaik untuk penanganan wabah. Misalnya, dengan percepatan penyuntikan vaksinasi Covid-19 dan penerapan disiplin protokol kesehatan.

Pemerintah pun masih akan mendukung berbagai langkah penanganan pagebluk baik dari sisi kesehatan maupun pemulihan ekonomi melalui program pemulihan ekonomi nasional (PEN). Sri Mulyani mengatakan pemerintah telah mencanangkan anggaran PEN sejak 2020.

Pada tahun lalu, anggaran PEN terserap lebih dari 80 persen atau Rp 575 triliun dari total anggaran yang dialokasikan. Begitu juga dengan 2021, Sri Mulyani memastikan pemerintah bakal terus mempercepat penyerapan dana PEN menjelang akhir tahun.

12 Selanjutnya

“Untuk tahun-tahun berjalan, anggaran 2021 tinggal satu bulan lagi, kita terus melaksanakan program pemulihan ekonomi nasional atau sebut saja PEN, serta melaksanakan anggaran pemerintah agar kita bisa pulih,” tutur dia.

Sri Mulyani menuturkan pemerintah cukup ambisius untuk melaksanakan reformasi struktural di berbagai sektor guna mendorong pemulihan ekonomi. Pemerintah, ujar Sri, menyadari agar negara bisa pulih lebih kuat dan mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan, perlu ada berbagai solusi atas masalah yang dihadapi.

Misalnya, masalah yang berkaitan dengan isu-isu daya saing, kualitas sumber daya manusia, dan produktivitas serta inovasi produk lokal. Untuk mengatasi pelbagai problem tersebut, Sri Mulyani berujar pemerintah telah melakukan penyederhanaan regulasi.

Harapannya, regulasi yang ada dapat mendorong tumbuhnya iklim usaha dan iklim investasi. “Penyederhanaan regulasi juga sangat relevan, khususnya di sektor industri hulu migas,” ujar Sri Mulyani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.